ISPA – Tapanuli Utara (Pengungsian)

Tarutung, Sumut, 21/6 (ANTARA) – Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) menduduki peringkat teratas pengungsi korban bencana gempa di Kabupaten Tapanauli Utara, Sumatera Utara.

“Jumlah pasien yang dirawat di Posko kesehatan di tenda penampungan mencapai 2177 orang, dan yang terserang penyakit ISPA sebanyak 341 orang,” ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Taput, Tumbur Hutabarat di Tarutung, Selasa.

Kategori penderita ISPA, sebutnya, merupakan penyakit yang paling banyak diderita pengungsi, disusul penyakit Dispepsia sebanyak 183 orang dan penderita Cepalgia 83 orang serta korban yang mengalami luka ringan 67 orang ditambah berbagai penyakit lainnya sebanyak 133 orang.

Menurut Tumbur, banyaknya penderita penyakit ISPA tersebut kemungkinan dipicu udara yang terkontaminasi akibat tingginya sebaran debu dan pencemaran yang terhirup oleh para pengungsi.

Bantuan alat kesehatan berupa masker, lanjutnya, sangat diperlukan warga pengungsi agar bisa mengurangi semakin bertambahnya jumlah penderita penyakit ISPA di lokasi penampungan bencana gempa tersebut.

Ia mengatakan dari 2177 orang penderita yang dirawat di Posko kesehatan tersebut, di antaranya, laki-laki dewasa sebanyak 210 orang, perempuan dewasa sejumlah 543 orang dan anak-anak sebanyak 16 orang serta penderita lainnya merupakan anak balita, ibu hamil dan orangtua lanjut usia..

Ibu hamil yang menjadi korban pada guncangan gempa berkedalaman 10 km, arah Tenggara kota Tarutung, 40 Km Timur Laut Sibolga, 48 Km Barat laut Padangsidimpuan dan 61 Km Tenggara Balige yang disusul Gempa berkekuatan 5,1 Skala Richter tersebut, berjumlah 83 orang.

“Jumlah anak balita yang menjalani perawatan di Posko kesehatan, mencapai hingga 879 orang dan orang tua lanjut usia sebanyak 1215 orang,” kata Tumbur.

Dikatakannya, guna mencegah berkembangnya penyakit menular diare, pihak petugas di Posko kesehatan menganjurkan semua pihak agar wajib memperhatikan kebersihan lingkungan di lokasi pengungsian. ***4***
(T.pso-219)

http://www.antarasumut.com/berita-sumut/pengungsi-gempa-taput-terserang-ispa/

Indonesian to English translation

Tarutung, North Sumatra, 21 / 6 (Reuters) – Acute Respiratory Infection (ARI) topped displaced victims of the earthquake disaster in Northern Tapanauli Regency, North Sumatra.

“The number of patients treated at the Command Post tent shelters reach health in 2177 people, and who develop respiratory diseases as much as 341 people,” said Head of the Regional Disaster Management, Taput, Tumbur Tarutung Hutabarat on Tuesday.

ARI category patient, he said, is the most common disease of refugees, followed by as many as 183 people Dyspepsia disease and patients Cepalgia 83 people and victims who suffered minor wounds 67 people plus a variety of other diseases as many as 133 people.

Diare – Sorong

SORONG – Dalam satu minggu terakhir, Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Sorong, Provinsi Papua Barat dipadati pasien anak-anak yang menderita sakit muntah dan berak (Muntaber). Ruang UGD RSUD penuh diisi puluhan pasien Muntaber yang rata-rata usianya 6 bulan sampai 5 tahun. Dokter yang bertugas di UGD RSUD Sorong, dr Joshua yang dikonfirmasi membenarkan bahwa pasien Muntaber mengalami peningkatan selama seminggu terakhir. Walaupun sudah mengalami penurunan namun masih terdapat beberapa anak yang dirawat di UGD. “Yang banyak masuk di UGD adalah anak yang mengalami Muntaber dan pernah memenuhi tempat tidur yang ada di RSUD Sorong,”ujar dr Joshua di Sorong. Dijelaskan, untuk penyebab Muntaber biasanya akibat kurang terjaganya kebersihan baik lingkungan, makanan maupun kebersihan diri sehingga terdapat bakteri penyebab Muntaber dapat masuk ke tubuh. Terutama anak-anak yang belum bisa menjaga kebersihan diri dengan baik, oleh karena itu untuk para orang tua harus dapat menjaga kebersihan anak-anaknya dengan baik. “Yang umum terjadi adalah kebersihan makanan dan cuci tangan sebelum makan harusnya selalu dilakukan. Karena hal yang ringan dan mudah tersebut sangat besar manfaatnya untuk pencegahan berbagai penyakit lainnya termasuk Muntaber,”jelasnya seraya menambahkan untuk perubahan cuaca juga dapat berpengaruh pada kesehatan dan kebersihan lingkungan, misalnya diakibatkan debu yang terkena hujan bisa mengakibatkan Muntaber. Joshua menjelaskan untuk pertolongan awal kepada anak yang terkena Muntaber, orang tua sebaiknya memberikan pengganti cairan tubuh yaitu larutan gula dicampur dengan garam sebelum dibawah ke rumah sakit. “Untuk gula satu sendok teh dengan sejumput garam dengan air sebanyak gelas belimbing, dan itu mudah dilakukan, murah dan sederhana,”terangnya. (rat/awa/jpnn)

http://www.jpnn.com/read/2011/06/25/96237/Pasien-Muntaber-Padati-UGD-RSUD-Sorong-

Indonesian to English translation

SORONG – In the last week, the Intensive Care Unit (ICU) hospitals Sorong, West Papua Province packed with pediatric patients who suffered from vomiting and diarrhea (diarrhea). Hospital emergency room full of dozens of patients with diarrhea and vomiting that required an average age of 6 months to 5 years. ER doctor on duty in Sorong District Hospital, Dr. Joshua who confirmed that the patient is vomiting justify increased during the past week. Although already declining but still there are some children who were treated in the ER.

ISPA – Kotawaringin

KOTAWARINGIN BARAT–BN: JUMLAH penderita penyakit infeksi saluran pernafasan bagian atas (ISPA) menduduki peringkat teratas dari 10 daftar penyakit yang terdata oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar)…
“Beberapa bulan terakhir kondisi cuaca di Kobar tidak stabil. Hal ini bisa menjadi sebagai salah satu penyebab penyakit ISPA,” ujar Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kobar, Syamsudin saat ditemui Borneonews di ruangannya, kemarin.
Menurut dia, sesuai data yang ada di Dinkes Kobar, penyakit  ISPA sepanjang 2010 dan triwulan pertama 2011 menduduki peringkat pertama terbanyak diderita oleh pemegang kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).
“Paling banyak diderita oleh umur dibawah lima tahun,” ucap Syamsudin.
Dari data, untuk tahun 2010 ada 47.059 orang yang menderita penyakit ISPA. Sedangkan data penderita ISPA pada triwulan pertama 2011 ada 10.477 orang. Total keseluruhan dari semua penyakit yang diderita masyarakat pada tahun 2010 sebanyak 172.747 orang dan 37.426 orang pada triwulan pertama tahun ini.
Selain ISPA, ada sembilan penyakit lainnya yang telah terdata. Peringkat kedua yaitu penyakit sistem otot dan jaringan pengikat, yang ketiga hipertensi, keempat diare, kelima penyakit kulit alergi, keenam malaria klinis, ketujuh penyakit pulpa, kedelapan infeksi kulit, kesembilan infeksi usus dan penyakit mata.
“Selain itu, ada sekitar 65 lebih penyakit lainnya yang diderita masyarakat kobar.”
Kondisi itu diperparah de­ngan banyaknya pembakaran lahan secara liar sehingga banyak asap yang dihasilkan dari proses pembakaran tersebut. (CR-26/B-5)

http://borneonews.co.id/news/kotawaringin-barat/12-kobar/11393-jelang-kemarau-penderita-ispa-bertambah.html

Indonesian to English translation

West Kotawaringin – BN: NUMBER disease upper respiratory tract infections (ARI) topped the list of 10 diseases recorded by the Department of Health (Health Office) West Kotawaringin (Kobar) …
“In recent months the weather conditions at the Kobar unstable. This could be one of the causes of respiratory disease, “said Head of (Head) Health Services Department of Health (Health Office) Kobar, Syamsudin Borneonews when found in his office yesterday.
According to him, according to data contained in the Health Office Kobar, respiratory diseases during 2010 and first quarter of 2011 was ranked first ever suffered by the cardholder Community Health Insurance (Jamkesmas).
“Most suffered by aged under five years,” said Syamsudin.
From the data, for 2010 there are 47,059 people suffering from respiratory disease. While the data with ARI in the first quarter 2011 there are 10,477 people. Overall total of all the ills of society in 2010 as many as 172,747 people and 37,426 people in the first quarter of this year.

Flu Burung (Unggas) – Jawa Timur (Endemis)

Metrotvnews.com, Surabaya: Lima kecamatan di Surabaya, Jawa Timur, positif terinfeksi virus flu burung atau avian influenza (AI) selama periode Januari-Juni 2011. Ini kasus pertama.

Kasi Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian Surabaya Yetty Rizal mengatakan, salah satu faktor utamanya adalah kebiasaan warga membawa unggas ketika kembali dari kampung halaman.

“Padahal, kesehatan unggas belum jelas apakah membawa virus di tubuhnya atau tidak. Selain itu, belum jelas juga apakah unggas sudah divaksinasi,” ujar Yetty di Surabaya, Kamis (23/6).

Biasanya, lanjut dia, unggas yang sudah terinfeksi langsung menularkan penyakit ke unggas lain yang berada dalam satu kandang. Hal itulah yang menyebabkan unggas lain terkena penyakit yang sama.

Lima kecamatan yang terinveski flu burung adalah Tandes, Sawahan, Simokerto, Kenjeran, dan Kecamatan Pabean Cantian. Dari tahun ke tahun lima kecamatan tersebut memang jadi langganan ditemukannya unggas mati mendadak. Padahal, Bagian Peternakan Dinas Pertanian Surabaya rutin melakukan vaksinasi dua kali dalam setahun. Namun, tetap saja ada unggas yang mati mendadak.(Ant/ICH)

http://metrotvnews.com/metromain/newscat/nusantara/2011/06/23/55705/Lima-Kecamatan-di-Surabaya-Terinfeksi-Flu

Indonesian to English translation

Metrotvnews.com, New York: Five districts in Surabaya, East Java, positive for the virus of bird flu or avian influenza (AI) during the period January to June 2011. This is the first case.

Head of Animal Health and Veterinary Public Health Agency of Agriculture Surabaya Yetty Rizal said, one major factor is the habit of bringing poultry citizens when returning from hometown.

ISPA – Solo

Solo (Solopos.com)–Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menduduki peringkat teratas dari sekian kasus penyakit di Kota Solo. Puskemas Sangkrah, Pasar Kliwon mencatat tiap bulannya lebih dari seribu kasus penyakit ISPA yang ditanganinya.

“Rata-rata menyerang anak-anak Balita. Namun, orang dewasa juga ada yang terserang,” kata Kepala Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Puskesmas Sangkrah, Erniati kepada Espos di ruang kerjanya, Senin (20/6/2011).

Menurut Erniati, salah satu penyebab terjangkitnya ISPA pada anak-anak ialah karena lemahnya kekebalan tubuh. Di sisi lain, juga dipengaruhi faktor lingkungan yang buruk serta iklim.

“Kalau menyerang anak-anak mudah diketahui karena daya tahan tubuhnya kan masih lemah. Kalau menyerang orang dewasa, sulit diketahui karena daya tubuhnya sudah kuat,” paparnya.

http://www.solopos.com/2011/solo/seribuan-warga-terserang-ispa-103686

Indonesian to English translation

Solo (Solopos.com)-Acute Respiratory Infection (ARI) is still ranked top of the many cases of disease in the city of Solo. Sangkrah health centers, markets Kliwon recorded each month over a thousand cases of respiratory illness at hand.

“The average Toddler attacked children. However, adults also are affected, “said Head of the Regional Technical Services Unit (UPTD) Sangkrah Health Center, Erniati to Espos in his office on Monday (6/20/2011).

Diare – Sukabumi

KBR68H, Sukabumi – Dalam kurun waktu 3 pekan, pasien diare  di Sukabumi, Jawa Barat meningkat tiga kali lipat. Jumlah  yang tercatat ditangani puskermas dan rumah sakit setempat mencapai 600 orang lebih.  Kepala Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, Rita Neni mengatakan penyebabnya musim kering dan faktor cuaca yang tak menentu serta kesadaran masyarakat yang rendah untuk menggunakan MCK

” Diare memang penyakit karena lingkungan juga, masih banyak warga kota yang memang belum memiliki MCK yang bagus sehingga kotoran itu mengalir saja ke saluran yang besar. “

Kepala Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, Rita Neni menambahkan, berdasarkan penelitia 6 aliran sungai di kota Sukabumi, telah tercemari bakteri E colli. Untuk mengatasi lonjakan penderita diare ini, dinas kesehatan telah menyiapkan seluruh logistik jika terjadi KLB diare.

http://www.kbr68h.com/berita/daerah/8204-pasien-diare-di-sukabumi-meningkat-3-kali-lipat

Indonesian to English translation

KBR68H, Sukabumi – Within three weeks, patients with diarrhea in Sukabumi, West Java increased three-fold. The number of recorded handled puskermas local hospital and up to 600 people more. Chief Medical Officer of Sukabumi, Rita Neni says the cause droughts and erratic weather factors as well as low public awareness to use the toilets

Rabies – Bengkulu

MUKOMUKO, KOMPAS.com — Sebanyak 52 warga di Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, digigit anjing yang terduga mengidap virus rabies.

“Dari korban sebanyak itu, 47 di antaranya telah diberikan vaksinasi antirabies, sedangkan lima lainnya tidak diberi vaksin karena dianggap aman,” kata Riswandi Dani, Kepala Bidang Pencegahan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mukomuko, Jumat (24/6/2011).

Ia mengatakan, tidak semua kasus manusia yang mengalami gigitan hewan terduga rabies (HTR) yang diberi vaksinasi anti-rabies (VAR). Petugas perlu menyelidiki hewan yang mengigit terlebih dahulu sebelum VAR diberikan.

“Jika HTR yang menggigit orang tidak mati dalam dua pekan, maka hewan itu tergolong aman sehingga korbannya tidak perlu diberikan VAR. Tetapi, jika hewan itu mati, maka VAR langsung diberikan,” ujarnya.

Menurut dia, VAR bisa langsung diberikan kepada manusia ketika hewan yang mengigit tidak bisa dipantau lagi.

Ia mengakui, Dinkes daerah ini kehabisan stok VAR untuk kegiatan pengobatan bagi warga yang terkena gigitan HTR, tetapi akan memperjuangkan pembelian VAR dalam kegiatan pengadaan barang dan jasa di dinas tersebut.

“Sumber dananya dari anggaran daerah ini, tetapi bukan khusus untuk pembelian VAR, namun satu paket dengan kegiatan pembelian obat-obatan,” urainya.

Sementara Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Mukomuko Muharuddin mengatakan, kegiatan pembelian VAR khusus tidak ada kemungkinan akan diselingi dalam kegiatan pembelian obat-obatan.

“Setahu saya pembelian khusus VAR tidak ada, namun tida tertutup kemungkinan itu diadakan dalam kegiatan pembelian dan pengadaan obat-obatan,” katanya.

http://regional.kompas.com/read/2011/06/24/15005222/Puluhan.Orang.Digigit.Anjing.Rabies

Indonesian to English translation

Mukomuko, KOMPAS.com – A total of 52 residents in the district of Mukomuko, Bengkulu Province, bitten by a dog suffering from rabies virus is unpredictable.

“Of the victims that much, 47 of whom have been given antirabies vaccination, while the other five were not given the vaccine because it is considered safe,” said Riswandi Dani, Head of Infectious Disease Prevention and Environmental Public Health (Health Office) District Mukomuko, Friday (24 / 6 / 2011).

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.